Selasa, 07 Maret 2023
Penonton Film #3
Jumat, 17 Februari 2023
Coretan Senja
Minggu, 30 Januari 2022
SEBUAH HARAP - Cerita Pendek
SEBUAH
HARAP
“Hari Sabtu ini ada acara kemana?” Diko membuka pembicaraan
saat kami duduk duduk di taman sekolah.
“Nanya ke siapa?” Arie menjawab Diko.
“Ya nanya ke kalian semua.”
“Pacaran saya.”
“Ah, ralat, kecuali kamu Ri.” Arie tertawa.
“Aku mau nemenin Mama, Papa, ke rumah Om, ada rapat
keluarga acara persiapan pernikahan anaknya.” Vira buka suara.
“Busyet sepupu
kamu sudah mau nikah aja Vir!”
“Kakak sepupuku itu 15 tahun lebih tua dari aku.”
“Oalah. Kirain masih sekolah juga.”
“Ya enggalah!”
“Eh, santai, ga usah nyolot!”
“Dih!”
“Tolong ya ga usah pakai acara berantem nih kalian berdua.”
“Lha, dia yang mulai duluan Ko.”
“Lho kok jadi nyalahin aku.”
“Stttt!!!”
Aku
tertawa melihat Arie vs Vira yang jarang akur.
“Kalau
kamu ada acara apa Ta?”
Jantungku berdegup.
“Di rumah aja Ko.”
“Septa, sekali kali kalau weekend itu jalan kemana kek. Main kek, apa kek.”
“Vir, suka suka dialah.”
“Eh, aku tuh ngomong sama Septa ya, bukan sama kamu Arie.”
“Ya
kalau Septa ini memang lebih suka di rumah emang kenapa?”
“Ya
engga apa apa sih. Ya emang sih Septa ini anak yang hobi bener bantuin Bundanya.”
“Ya baguslah bantu bantu di rumah. Daripada kamu…”
“Apa?!”
“Peace!”
“Kalau ga hunting
foto bareng kita, ga bakal deh Septa keluar rumah pas weekend.”
“Hehehe…”
“Kalau Sabtu besok kita nonton film gimana Ta?” Jantungku
berdegup lagi.
“Aku dukung kamu Ko! Ajakin ini si Septa jalan.”
“Kali ini aku setuju sama Vira.”
“Hih! Aku ga minta persetujuan kamu ya.”
“Please…”
“Guys, ini lagi
ngomong sama Septa ya, jadi tolonglah ga usah pakai acara ribut ribut dulu.”
“Oke Diko. Ayo
Septa dijawab itu pertanyaan Diko.”
“Iya Vir. Oke,
kita nonton Ko.”
“Siplah.”
*
Rasanya masih tidak percaya hari Sabtu nanti aku akan
menonton film bersama Diko. Aku suka Diko. Diko adalah tipe cowok idamanku. Aku
dan Diko yang berbeda kelas dipertemukan karena hobi memotret. Arie dan Vira teman sekelasku yang awalnya mengajakku untuk hunting foto, karena mereka tahu aku suka memotret. Jadilah kami
berempat, dan 12 orang teman lainnya dari kelas yang berbeda, tergabung dalam
club foto sekolah ala ala.
*
Diko menjemputku di Sabtu sore ini. Setelah berpamitan
dengan Bunda dan Ayah, kami menuju ke bioskop untuk menonton sebuah film
pahlawan super hero Indonesia. Aku senang sekali bisa pergi berboncengan dengan
Diko seperti ini.
*
Hatiku masih berbunga jika menginggat yang terjadi di hari
Sabtu lalu bersama Diko. Setelah acara menonton film selesai, Diko mengajakku
mengobrol di sebuah coffe shop. Aku dan Diko berbagi cerita, lebih banyak
membahas soal memotret tentunya. Ah, obrolan apapun akan terasa menyenangkan
jika mengobrol bersama seseorang yang kita suka.
“Thanks ya Septa.
Aku akan traktir kamu!” Diko menghampiri saat aku, Arie, dan Vira, sedang duduk
duduk di taman sekolah, tempat favorit.
“Lho kok cuman Septa yang ditraktir. Aku dan Vira engga
nih?”
“Sorry guys, ini
khusus untuk Septa saja.”
“Ah teganya!” Vira langsung manyun.
“Makasih Diko. Tapi ini dalam rangka apa ya traktirannya?”
“Karena kamu sudah membantuku kembali kepada Citra.”
Jantungku berdegup mendengar nama mantan pacar Diko yang tetangga
satu komplek rumahnya itu.
“Eh, gimana, gimana?”
“Jadi, waktu aku dan Septa nonton kemarin, kan aku posting
di IG story tuh.”
“Iya aku lihat. Kamu juga mention Septa kan?”
“Betul sekali Vir. Nah, rupanya Citra lihat dan dia…”
“Dia cemburu, terus dia minta balikan lagi sama kamu.”
“Kira kira begitu Arie…”
“Wah, selamat Diko! Ya dasarnya kalian berdua memang masih
ada rasa kan ya? Bucin bucin.”
“Ah,
Vira!”
“Septa,
kamu harus minta traktiran yang mahal ke Diko!”
“Setuju
Vir!”
“Dih,
apaan sih setuju setuju aja.”
“Guys…”
Vira dan Arie kompakan menutup mulut mereka dengan tangan.
“Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih untuk kamu Septa,
teman baikku. So, pizza size big, steak premium, kopi hits?
Apapun Septa.”
Wait, best friend? Oh,
hatiku, yang kuat kamu. ***
Senin, 13 Desember 2021
Obrolan Film
Hey, sudah menonton film apa nih? Saya sudah menonton beberapa film sebelum berganti tahun nih, hehe! Senang bisa kembali menonton di bioskop. Bagaimanapun juga menonton film di bioskop itu menggembirakan. Bisa menonton film di layar yang lebar dengan suara membahana dan suasana yang khas, menonton film di bioskop memberikan sensasi yang tak tergantikan. Yay!
Mau cerita cerita ya tentang film yang saya tonton.
YUNI
Baru kemarin banget nonton film Yuni. Film ini kental dengan nuansa warna ungu, warna kesukaan Yuni, si tokoh utama. Senang rasanya bisa menonton film dengan setting di suatu daerah/kota dengan bahasa, budaya, kehidupan, yang sebelumnya tidak banyak saya ketahui. Jalan cerita di film Yuni menarik untuk diikuti, tentang perjuangan perempuan yang dihadapkan dengan persoalan persoalan "pelik" dalam menjalani kehidupan mereka. Selesai menonton film ini, Yuni, dan tokoh perempuan perempuan lain yang ada di film ini, memberikan semacam perenungan buat saya.
MENUNGGU BUNDA
Senang sekali mendapat kesempatan menonton film Menunggu Bunda di perhelatan JAFF 2021. Menunggu Bunda adalah film keluarga yang menyentuh, membuat haru, dan di akhir akhir cerita memberikan kejutan bagi penonton.
PARANOIA
Film yang seru untuk ditonton. Nicolas Saputra (masih) menjadi magnet saya untuk menonton film Paranoia ini :)
Baik, selamat menonton film!
Minggu, 29 Agustus 2021
SI TETANGGA IDOLA - Cerita Pendek
SI TETANGGA IDOLA
Kabar
yang beredar satu minggu belakangan ini, kalau ada selebritis yang menjadi bagian
masyarakat di wilayah tempat tinggalku, menyebar dan cukup santer
terdengar. Para tetangga sedang sibuk membicarakan orang tersebut. Rumah di
ujung jalan, yang mana hanya berselisih 2 rumah dari rumahku, katanya dihuni
oleh bintang sinetron kenamaan. Sebenarnya aku cukup heran mengetahui ada
selebritis beken yang tinggal di wilayah tempat tinggalku. Jalan depan rumah
yang hanya bisa dilewati dua mobil secara bergantian, mungkin bukan sebuah pilihan
tempat tinggal bagi seorang public figure.
“Eh, gimana, sudah ketemu sama si pemain sinetron itu?” Carla, teman sedari kecil, tetangga beda gang, yang sore ini
sedang main ke rumah, langsung memasang tampang kepo to the max saat kami sedang duduk santai di teras.
“Kalaupun ketemu, gue juga ga bakal ngeh
dia tuh yang mana. Secara Bunda juga bukan penggemar sinetron striping kaya Ibu-Ibu di sini, jadi ya gue belum pernah lihat tampang tuh
orang, at least di tv sekalipun.
Cuman tahu nama doang sih.”
“Dasar kudet! Nonton infotaiment makanya.”
“Gue nonton kok, kalau pas ada Nicolas
Saputra sih...”
“Hahaha!
Well, berhubung Mama penggemar berat
doi, jadilah setiap hari terpaksa deh gue
harus mendengarkan puja puji beliau ke orang itu.”
“Tapi
Mama lo ga kaya Ibu-Ibu disini, yang
pada heboh wara-wiri di depan rumahnya si aktor sinetron itu.”
“Untungnya
belum sih, namun entah suatu hari nanti. Gue
harap itu ga akan terjadi! Malu gue
kalau beneran bakal kejadian.”
“Hihihi. Katanya orangnya tuh ganteng
banget.”
“Kalau ga ganteng ya ga bakal jadi
pemain sinetron kaliiiii...”
“Hahaha, iya juga sih. Kalau gue perhatiin nih, tuh rumah sepi-sepi
aja.”
“Ya doi sibuk suting kali.”
“Pernah lihat ada orang bersih-bersih
sih, semacam home cleaning service
gitu.”
“Diam-diam elo memperhatikan juga… curiga gue.”
“Yaelah, pas kebetulan aja itu.”
“Elo
ga mulai ikutan wara-wiri di depan rumahnya kan?”
“Ih, ogah bener! Eh, tapi
heran ga sih, masa artis beken mau tinggal di wilayah kita ini. Biasanya
selebritis tuh kan milih tinggal di apartement, atau komplek perumahan mewah
gitu…”
“Iya sih. Ah, ga usah curigaan.
Mungkin dia selebritis yang down to earth,
mau tinggal di kampung kita yang semi komplek perumahan ini, hihi.”
“Aih, down to earth!”
“Atau doi sedang dalam misi tertentu.”
“Like
what?”
“Kali aja gebetannya tinggal di
wilayah sini, dan doi lagi mau pedekate
gitu.”
“Bisa aja teori lo!”
Carla ngakak.
“Eh Sheila, semester ini gue mulai magang di kantor iklan itu lho.”
“Wah, keren!”
Aku
dan Carla berhenti membicarakan si pemain sinetron itu, dan berganti topik
pembicaraan tentang kuliah kami masing-masing.
*
Sebenarnya aku paling malas kalau
disuruh Bunda untuk pergi ke minimarket yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Berhubung persediaan telur dan beberapa bumbu dapur instan di rumah habis, dan
sore nanti Bunda harus memasak untuk makan malam kami sekeluarga, akhirnya aku
berangkat juga ke minimarket.
Mau
tak mau aku nurut kalau disuruh Bunda ke minimarket. Bagaimana lagi, adikku
baru kelas 2 SD, tentu Bunda akan menunjukku dalam hal bantu membantu urusan
rumah. Dulu aku sempat mengira akan menjadi anak tunggal, karena selama belasan
tahun hanya aku saja yang menjadi anak Bapak dan Bunda, eh kemudian aku memiliki
adik perempuan yang manis dan lucu.
BRUK!
Ampun aku menabrak seseorang saat memasuki minimarket. Lagian ini orang antri
di depan kasir kok ya seenak-enaknya aja, deket bener sama pintu masuk. Huh!
YA
AMPUN GANTENG BANGET COWOK INI! Jantungku berdegup saat bertatatapan dengan
seseorang yang aku tabrak tadi.
“Eh, ada Vino Raharjo!” Seseorang yang
baru masuk minimarket langsung heboh dan sedikit histeris. Dan, dalam waktu hanya
per sekian detik saja, cowok ganteng yang aku tabrak tadi sudah sibuk membalas
sapaan orang yang baru masuk minimarket bersama 2 temannya.
Eh,
siapa? Vino Raharjo? Sound familiar with
that name!
*
“Akhirnya ketemu juga lo sama bintang sinetron itu.” Carla
cekikikan selesai mendengar ceritaku 2 hari yang lalu di minimarket.
“Pas denger rumpian cewek-cewek itu,
setelah tuh orang cabut, gue baru
sadar, ya ampun cowok yang gue tabrak si bintang sinetron itu. Tapi beneran sih orangnya emang ganteng.”
“Ntar kalau ketemu lagi sama dia minta
foto barenglah, lumayan kan buat eksis di sosmed. Ketemu seleb! Gitu kira-kira
captionnya.”
“Boleh juga tuh…”
Carla cekikikan.
“Bangku ini kosong?” Aku dan Carla
langsung berhenti makan siomay langganan di warung tenda samping minimarket
saat seseorang menyapa kami.
“Eh… iya, kosong.” Aku sedikit terbata
saat menjawab. Aku melihat Carla tampak takjub dengan cowok yang sedang
tersenyum ke arah kami.
My God, Vino Raharjo duduk
di sampingku!
“Mungkin teori lo tentang cewek gebetan itu adalah gue.” Aku berbisik pelan, dan disambut mata melotot serta tendangan
kaki lumayan kencang di bawah meja dari Carla.
Jantungku
mulai berdegup. ***
Minggu, 04 Juli 2021
Coretan Minggu
Hi, Sunday!
Corat coret apa ya di hari Minggu ini? Film? Well, bioskop sedang tutup untuk sementara waktu, jadi keinginan untuk menonton film ditunda dulu. Padahal sudah mengincar film Jakarta vs Everybody. Ya, sudahlah. Semoga keadaan lekas baik, dan bioskop segera buka. Sempat menonton film di bioskop sih beberapa waktu lalu, judulnya Tarian Lengger Maut.
Di streaming digital banyak sih film Indonesia yang diputar, baik film lama maupun film baru. So far, saya baru menonton film di Bioskop Online. Belum sanggup langganan streaming digital saya mah, hahaha! Kalau di Bioskop Online ya nonton film yang diinginkan, bayar pakai Go***, kelar! Dan bisa ditonton pakai laptop. Sebagai si kacamata minus, saya ga sanggup nonton film di layar ponsel, kecuali film pendek.
Sebagai orang yang suka menonton film, saya sempat memiliki cita cita untuk berada di industri perfilman Indonesia. Keren gitu ya kalau bisa berada di sebuah produksi film. Debut ikutan acara acara film kalau ga salah dimulai tahun 2010. Karena suka menulis, saya memiliki keinginan untuk menjadi Script Writer. Oke, saya mencoba mengirimkan sinopsis cerita film, naskah film, terutama film pendek sih, karena saya mampu menulisnya ya baru di cerita film pendek. Rentang waktu 2010-2019 saya mengikuti beberapa kompetisi menulis naskah film, dan belum ada yang lolos. Yah, mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi mengenai penulisan naskah film, secara saya juga belajarnya secara otodidak, belum belajar secara formil. Atau mungkin "jalannya" memang hanya jadi penonton film saja? Whops!
Baiklah, selamat berhari Minggu, sehat sehat selalu. Tetap jalankan protokol kesehatan, tingkatkan imunitas, dan semoga pandemi ini segera selesai. Aamiin.
Semangat!!!
Kamis, 21 Januari 2021
Awan Di Atas Taman - #AStoryAbout
AWAN DI ATAS TAMAN
Setiap aku sedih, aku selalu datang ke taman bermain ini. Aku
tahu, sekarang aku sudah besar, umurku sudah 17 tahun. Aku tahu, aku bukan anak
kecil lagi yang bisa bermain ayunan sepuasnya, atau sekedar berlari-lari
mengelilingi taman bermain ini, seperti yang selalu aku lakukan saat kecil
dulu. Entah mengapa saat berada di taman ini aku selalu merasa tentram, dan
kesedihanku langsung menghilang. Bisa duduk-duduk santai di bawah pohon
rindang, tempat favoritku saat berada di taman ini, membuatku merasa damai.
Seperti Minggu sore ini, aku mengunjungi taman bermain yang tak bernama itu.
Aku menamai taman bermain ini dengan nama “Taman Awan”, karena aku suka sekali
melihat awan dari bawah pohon rindang di taman bermain ini. Bisa menatap awan
yang berjalan berarakan membentuk berbagai macam bentuk yang lucu dan indah, membuatku
bahagia.
Saat
ini aku sedang sedih. Karin, sahabatku, entah mengapa akhir-akhir ini seperti
menghindarku. Dan yang paling parah adalah kegalauanku karena Raja! Yup! Si
Raja, cowok pujaanku itu. Menginggat Raja, membuat jantungku tiba-tiba berdegup
kencang. Ah, kenapa aku selalu merasakan getaran indah setiap kali
hatiku menyebutkan nama Raja? Kenapa selalu ada deguban kencang saat teringat
pada Raja? Apakah aku sedang jatuh cinta pada tetangga baruku itu? Cowok yang
tinggal di sebelah rumah yang membuat hariku penuh warna.
Entah
sejak kapan aku naksir Raja, mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Aku
inggat, sore itu aku sedang menyiram tanaman di halaman depan rumah saat sebuah
truk berhenti di rumah sebelah yang kosong, setelah pemilik sebelumnya berhasil
menjual rumah tersebut beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku tidak terlalu
memperhatikan orang-orang yang sibuk memindahkan barang-barang dari truk menuju
ke dalam rumah. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat melihat cowok itu!
Aku suka melihat cowok yang sedang berjalan menuju ke dalam rumah bersama
anjingnya. Melihat wajahnya yang lucu dengan pipi chubby-nya,
melihat gayanya yang cuek, membuatku hatiku meleleh. Aku merasakan
pipiku menghangat saat cowok itu melihat sekilas ke arahku.
Aku
tahu, seharusnya saat cowok itu melihat ke arahku, aku memberikan senyuman
kepadanya, tapi aku tidak melakukan itu. Aku tahu, seharusnya aku menyapa
tetangga baru yang sudah menggetarkan hatiku itu, namun aku tidak melakukannya.
Waktu itu aku malah pura-pura cuek, dan tetap sok sibuk menyiram
tanaman, padahal aku ingin sekali memberikan senyuman terbaikku. Aku hanya bisa
menyesal saat akhirnya cowok itu masuk kedalam rumah dan aku gagal berkenalan
dengannya.
Sampai akhirnya sekitar seminggu yang lalu aku melihat
cowok lucu itu di jalan, saat aku sedang berjalan menuju rumah sepulang dari
les Bahasa Inggris. Setelah berhari-hari aku tidak melihat dia, sejak pindahan
rumah itu, akhirnya sore itu aku melihat dia sedang berjalan kaki berkeliling
komplek bersama anjingnya. Namun lagi-lagi aku melewatkan kesempatan untuk
sekedar memberikan senyumku kepadanya. Saat kami berpapasan, aku malah
pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Bukannya berusaha untuk melakukan kontak
mata dengan dia, aku justru menghindari tatapan cowok lucu itu saat dia
melihatku. Stupid me! Kesempatan emas terbuang lagi!
Aku akhirnya tahu kalau cowok lucu itu bernama Raja dari
Bapak Sapta, satpam di komplek perumahan kami. Sejak sore itu, hampir setiap
hari Raja melewati rumahku untuk berjalan-jalan berkeliling komplek bersama
anjingnya. Aku tahu, seharusnya aku menyapa Raja saat dia melintas di depan
rumahku, namun aku selalu saja melewatkan kesempatan baik itu. Aku tahu,
seharusnya aku menyiram tanaman saat Raja lewat, namun sebaliknya, aku justru
mulai menyiram tanaman setelah Raja berlalu. Aku tahu aku bodoh, karena selalu
saja melewatkan kesempatan untuk menyapa Raja. Namun aku yakin, suatu hari
nanti aku pasti bisa berkenalan dengannya. Raja, wait for me!
Aku
menghela nafas panjang dan kembali menatap awan. Wajah Raja tergambar jelas
diantara awan yang sedang berjalan beriringan di atas langit yang cerah. Kenapa
fikiranku tidak bisa sedetikpun lepas dari Raja? Uh!
*
“Maaf
Sifa, aku tidak pernah bermaksud menghindari kamu.” Aku sedang berbicara dengan
Karin, sahabatku. Kami sedang duduk berdua di bawah pohon rindang di taman
awan.
“Aku
minta maaf kalau aku punya salah sama kamu Rin, tapi jangan menghindariku
seperti ini.” Air mata Karin tiba-tiba jatuh. “Karin, kamu kenapa?” Aku jadi
sedikit panik saat melihat Karin menangis.
“Kamu ga salah apa-apa Sifa…”
“Maaf
Karin, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis…”
Karin mengambil tissue yang aku sodorkan
kepadanya dan menghapus air matanya.
“Papa
dan Mamaku akhir-akhir ini sering bertengkar hebat Fa…. aku takut kalau mereka
akan berpisah…” Sorot mata Karin memancarkan kesedihan. “Sebenarnya sudah sejak
lama aku ingin curhat sama kamu tentang hal ini tapi…”
“Tidak
apa-apa Karin, terkadang memang ada cerita yang bisa kita bagi bersama sahabat,
tapi ada juga cerita-cerita yang memang ingin kita simpan sendiri.” Karin
mengangguk. “Maaf Karin, kesannya aku jadi memaksa kamu untuk menceritakan
masalah yang sebenarnya tidak ingin kamu bagi denganku…” Aku jadi merasa
bersalah pada Karin.
“Engga Sifa,
aku justru lega bisa berbagi sama kamu.”
“Aku
hanya bisa berdoa semoga semua akan baik-baik saja Rin.”
“Amin!
Terimakasih untuk doanya.”
“Sama-sama.”
“Eh si tetangga baru, gebetan kamu
itu gimana?” Karin kembali terlihat bersemangat saat bertanya soal Raja.
Aku mulai bercerita tentang Raja, cowok yang semakin hari
semakin membuatku penasaran. Karin tertawa ngakak waktu aku
bercerita tentang kekonyolanku, saat aku sering bolak-balik melewati rumah Raja
dan berharap Raja akan keluar rumah lalu menyapaku. Namun kenyataan yang aku
terima tidak sesuai dengan harapanku, Raja tidak pernah keluar rumah saat aku
lewat didepan rumahnya. Pernah suatu hari aku menyiram tanaman lebih lama dari
biasanya dan berharap Raja lewat didepan rumah, namun saat Raja benar-benar
lewat aku justru kabur masuk ke dalam rumah.
“Kayanya kamu benar-benar sedang jatuh cinta sama si Raja
deh…”
“Mungkin…. entahlah…”
“Cieeeee yang lagi naksir sama tetangga sebelah
rumah…” Aku hanya bisa tersipu malu saat Karin terus saja
menggodaku.
Ah, jatuh cinta memang menyebalkan!
*
Sudah lama aku tidak mengunjungi taman awan. Terakhir kali
aku datang ke taman awan saat aku dan Karin saling curhat, sambil
menatap awan di atas langit yang indah pada siang hari itu. Sekarang tidak ada
lagi sorot mata kesedihan yang tepancar dari Karin. Mama dan Papa Karin
sudah tidak pernah bertengkar lagi, mereka sudah kembali rukun. Aku turut
bahagia untuk Karin, sahabat terbaikku.
Aku bukannya tidak rindu untuk duduk-duduk di bawah pohon
sambil melihat awan yang berjalan berarakan di atas langit. Hanya saja aku
tidak sedang bersedih. Aku sudah bilang kan, aku hanya akan mendatangi taman
awan saat hatiku sedang diliputi kesedihan. Saat ini aku sedang
bahagia. Dan kebahagiaanku itu karena Raja. Aku tidak hanya berhasil
berkenalan dengan Raja, tapi sudah satu bulan belakangan ini
aku jadian dengan Raja!
Aku inggat, saat akhirnya aku bisa berkenalan dengan
Raja. Sore itu aku memang sudah membulatkan tekad untuk menyapa Raja. Saat
Raja lewat di depan rumahku bersama anjing kesayangannya, aku mengarahkan
selang air ke arahnya. Tentu saja aku sengaja melakukannya! Aku sempat khawatir
kalau taktikku tidak berhasil. Aku takut Raja justru marah karena aku
menyemprotkan selang air ke arahnya. Jantungku langsung berdegup kencang
saat melihat senyum Raja untuk pertama kalinya. Aku tidak ingin melewatkan
kesempatan emas ini. Aku buru-buru minta maaf kepada Raja, Rajapun memaafkan
aku.
Yes, taktikku berhasil!
Sejak saat itu kami jadi sering mengobrol. Aku berusaha
menyempatkan waktu untuk menemani Raja jalan jalan sore mengelilingi komplek
perumahan. Raja yang kocak dan lucu selalu berhasil membuatku tertawa dengan
lelucon-leluconnya. Raja benar-benar membuat hari-hariku dipenuhi dengan
keceriaan. Hidupku terasa lebih berwarna saat bersama Raja, dan aku selalu
merasa bahagia saat berada disampingnya.
Raja lalu mengutarakan perasaannya kepadaku, dia bilang
ingin jadi seseorang yang spesial untukku. Selama ini aku berfikir bahwa Raja
hanya menganggapku sebagai teman saja, karena aku tidak merasakan tanda-tanda
kalau Raja juga merasakan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Sikap
Raja yang selalu tenang saat bersamaku, gayanya yang cuek didepanku,
dan obrolan kami yang mengalir ringan, membuatku berfikir, bahwa perasaanku
pada Raja hanya bertepuk sebelah tangan. Ternyata Raja juga merasakan apa yang
aku rasakan. Aku bahagia!
Aku masih suka memandangi awan, meskipun bukan di bawah
pohon rindang di taman awan itu. Sore ini aku dan Raja duduk-duduk santai di
teras rumahku. Aku makan ice cream rasa coklat kesukaanku dan
Raja menikmati minuman soda kesukaannya sambil mengobrol tentang apa saja.
Meskipun aku tidak sedang mengamati awan di taman awan, namun aku tetap
merasakan getaran indah saat melihat awan-awan yang berjalan berarakan di atas
langit. Aku bahagia bisa melihat awan bersama seseorang yang aku sayang. ***
Melewati Waktu
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...
-
Halo 2026! Alhamdulillah sudah memasuki tahun yang baru. Mudah-mudahan hal-hal baik datang di tahun ini, aamiin. Dan, tentu saja, bisa menon...
-
Ngomongin film ah, di malam minggu yang mendayu ini, wohooo! Well, mulai dari Parasite... Gaung film Parasite memang sudah menggema sej...