TEMPAT BERLABUH
Baru
saja aku duduk dan menghela nafas panjang, Helen sudah ada di hadapanku.
“Kenapa?”
“Gak
apa apa.”
“Bete gitu.”
“Biasalah.”
“Diledekin
kapan nikah lagi sama anak lantai bawah?”
“Nah
sudah tahu pakai nanya!”
“Ga
usah sewot dong.”
“Tadinya
aku sih santai saja, tapi lama lama jengah juga. Lagian ngapain sih mereka tuh
ngurusin hidup orang banget. Aku mau nikah kek, ga nikah kek, jadi perawan tua
kek, apalah, inilah, ya itu urusanku.”
“Ya
memang inginnya begitu, tapi ya ga bisa gitu juga nyatanya.”
“Heran
banget! Sepenting itukah pertanyaan soal kapan nikah?”
“Ya
nyatanya buat mereka penting.”
“Buat
apa sih?”
“Tanya
saja sama mereka.”
“Dih,
ogah! Lucky you Helen, kamu tidak
harus mendapakan pertanyaan seputar pernikahan.”
“Hahaha.”
“Udah
ah mau balik kerja.”
“Semangat!”
“Thanks Helen.”
Hei!
Aku bukannya tidak ingin menikah, hanya saja belum bertemu dengan seseorang
yang tepat saja. Pengalaman asmaraku memang tergolong sepi sih, lebih banyak jomblonya dibanding berduaannya. Ya,
kali, mantan pacar cuman satu, itupun pacaran kurang dari setahun. Untuk
perempuan kepala tiga pertengahan begini katanya sih cupu bener!
Padahal
Papa, Mama, dan juga Mas Dewo, kakak laki-lakiku yang sudah berkeluarga, tidak
pernah menuntutku untuk segera menikah. Lha, ini, kenapa teman teman kantor resenya minta ampun. Ya, memang, sebagian
besar teman kerjaku di perusahaan Asuransi, tempat aku menghabiskan masa
bekerja 2 tahun belakangan ini, sudah berkeluarga. Mungkin mereka risih melihat
perempuan yang belum menikah di usia yang seharusnya sudah berkeluarga. Tau ah!
*
“Santi
Nurmila, kenapa wajahmu murung begitu wahai kisanak? Es coklat dan burger ayam
favorit sampai dianggurin gitu.”
“Berisik!”
“Cerita
dong sama sahabat tersayangmu ini.”
“Bete banget aku sama teman teman kantor
tuh. Tanya melulu mana calonnya, kapan nikahnya, bla bla bla. Difikir aku ga
galau setengah mati apa mikirin pasangan hidup.”
“Astaga,
masih saja persoalan yang sama.”
“Ya
memang begitu adanya. Lama lama aku resign
juga dari kantor.”
“Eh
jangan dong.”
“Kalau
mobil dijual plus tabungan yang
terkumpul, bisa nih kayanya buka toko aksesoris cantik idaman.”
“Yakin?”
“Yakinlah!
Daripada aku stress setiap hari ketemu sama pertanyaan yang itu itu lagi, itu
itu lagi.”
“Apa
kita pacaran saja?”
“Fano
Septanto, apa yang kamu katakan?”
“Lha,
kita kan sama sama single, kamu ga
punya pacar, aku juga ga punya pacar.”
“Hei,
apa katamu, baru juga putus.”
“Putus
resmi 2 bulan lalu, putus ga resmi ya sudah setahunanlah.”
“Bisa
saja! Dasar bucin, digantung status
masih aja cinta mati.”
“Itu
dulu, sekarang sudah tidak lagi.”
“Yakin?”
“Yakin!”
“Apa
karena dia sudah ada yang punya sekarang.”
“Ah,
engga juga. Pada akhirnya aku hanya menyadari kebodohanku selama ini, terlalu
memiliki perasaan yang dalam kepadanya.”
“Wuidih!
Puitis sekali. Cocoklah buat lirik lagu.”
“Sial!
Jadi gimana?”
“Gimana
apanya?”
“Kita
ini berteman kan sudah sejak kuliah, adalah 15 tahunan kita bersama.”
“Ya,
terus?”
“Kurang
mengenal apa lagi coba kita ini?”
“Iya
juga sih. Tapi apa iya... maksudku... ah, ada ada saja kamu nih.”
“Banyak
yang menyangka kita pacaran kan? Ya sudah, kita bikin prasangka mereka jadi
nyata.”
“Hahaha!”
“Malah
ketawa nih anak. Aku serius ini.”
“Lucu
juga ya kalau kita beneran jadian.”
“Gimana,
mau mulai hari ini kita pacaran?”
Senyumku
mengembang. ***