Senin, 28 Mei 2018

IdoLa

Mari berbicara tentang idola!
Pernah punya idola? Hmmm rasa-rasanya hampir semua punya idola ya... bisa tokoh, selebritis, atau siapapun, rasanya bisa dijadikan idola kita bukan?
Ngomongin idola memang ga akan ada habisnya, apalagi kalau dia punya karya yang kita kagumi. Bisa melalui tulisan, buku, musik, film, dan karya lainnya yang begitu melekat dalam ingatan.
Saya sih punya idola... banyak! Tapi paling seru memang kalau ngefans sama seseorang, yang selama ini hanya kita lihat di televisi, majalah, atau melalui sosial media, lalu kita ketemu langsung sama idola tersebut, dan dia bersikap menyenangkan, tentu hal itu sangat menggembirakan :) Ah, perlu dibahas lebih lanjut ga ya siapa sosoknya? Hahahaha...
Yang jelas, punya idola itu menyenangkan, apalagi kalau kita jadi terinspirasi dengan hal-hal positif yang dilakukan, dibagi, sama idola kita.
Memang, terkadang rasa kecewa juga datang jika idola yang dipuja rasa-rasanya kok begini sih, ga sesuai dengan apa yang guweh fikirkan, tapi ya nikmati saja, idola juga bisa bete juga kan? Mungkin dia sedang baper... :D
Memang senang rasanya jika kita follow sosmed-nya idola, dan dia share tentang banyak hal menyenangkan, hal bermanfaat, rasa-rasanya kok seperti larut dalam suasana :D 
Well, punya idola itu seru, apalagi kalau kita ikutan terpacu dengan prestasi dari sang idola, dan bikin kita terus berkarya, bekerja, dengan bidang yang kita cintai.
Baiklah... tetap mengidolakan sosok-sosok yang mengispirasi ya...
Happy Ramadan :)   

Selasa, 15 Mei 2018

Ramadan (akan) Tiba

Alhamdulillah, tanpa terasa akan memasuki bulan Ramadan nih :) dan hawa-hawa Ramadan sudah mulai terasa... Glad! 
Setiap Ramadan tiba, ada sesuatu yang menyesakkan dada ini... Ya, kembali menyadari akan melewati Ramadan tanpa Ibu tercinta rasanya memang tidak mudah, sulit sekali. Namun ya semua memang harus dilewati kan? Tentu sajah! :)
Apa yang paling dirindukan saat Ramadan? Tentu saja jawabnya adalah Ibu :)
I miss u Mom... Till we meet againt ya Bu... :) 
Baiklah... 
Selamat menjalankan Ibadah Puasa, semoga Allah SWT merahmati dan memberkahi, amin. Dan untuk negara Indonesia terkasih, semoga kedamaian selalu hadir dalam hari-hari yang terlewati. 
Selamat beraktivitas!   



Sabtu, 28 April 2018

Dilema - #AStoryAbout




DILEMA


“Sabtu malam nanti kamu pergi sama Tio ya?” sambil terus mengunyah mie ayam favoritnya Vina membuka pembicaraan. Sedari tadi kami sibuk dengan ponsel masing-masing, saat siang ini aku dan Vira mampir di warung mie ayam di depan sekolah. 
          “Rencananya sih begitu… Tio bilang ingin mengajakku nonton film.”
          “Oh.. untungnya aku ga terlalu suka nonton film, jadi ga mupeng deh…”
          “Kalau novel terbarunya…”
        “Dee Lestari! Itu keren! Keren banget! Sudah hampir setengahnya dilahap dunk!”
          “Looh kok ga ngajak-ngajak aku ke toko bukunya.”
       “Kamu kan sibuk sama Tio… nemenin dia futsal lah, lagi ngopi-ngopi sambil diskusilah… ini lah… itu lah…”
          “Ah, ga segitunya kali…”
          “Segitunya kali…”
          “Ya sudah, maaf ya kalau aku ga jadi nemenin kamu ke toko buku.”
          Vina manyun.
      “Vin, kamu ga pengen punya pacar? Biar ada yang nemenin kalau ke toko       buku.”          
          “Aku bisa ke toko buku sendiri kok.”
          “Iya sih… tapi kan seru juga kalau ditemenin pacar…”
          “Gitu ya? Kaya kamu sama Tio gitu?”
          “Ya… iya.”
         “Males ah kalau punya pacar satu sekolah. Mau cari yang kaya kamu aja ah, yang beda sekolah.”
          “Dikenalin sama teman-teman cowoknya Tio mau?”
          “Ya ga temannya Tio juga sih…”
          “Trus…”
          “Hmm….”
         “Coba ikutan pertemanan online? Siapa tahu dapat pacar. Sepupuku yang di Jogja tuh dapet pacar via online gitu… awalnya chatting bareng, lalu ketemuan, setelah pedekate beberapa bulan, akhirnya mereka jadian.”
          “Bukannya serem kalau kenalan via dunia maya gitu?”
         “Ya cari pertemanan online yang bener dunk! Itu, pacarnya sepupuku baik kok. Yang satu kota aja sih kalau bisa, biar ga LDR-an gitu nantinya kalau jadian beneran.”
“Iya deh yang ga bisa jauh-jauh dari Tio…”
“Hahaha. Cobain sih Vin siapa tahu ada yang klik. Yang hobinya sama gitu, sama-sama suka novel.”
          “Ya, ntar deh…”
          “Bener ya…”
          “Pulang yuks! Hujannya sudah mulai reda. Bus jurusan kita juga udah wara-wiri tuh.”
          Oke!”
          Akhirnya aku dan Vira bisa pulang setelah hujan yang sedari tadi turun berhenti juga.
*

          Sore ini  aku dan Vina memasuki sebuah café mungil yang lokasinya tidak jauh dari komplek perumahan kami. Aku memilih meja dengan sofa empuk yang bersebelahan dengan jendela, tempat favoritku dan Vina. Sedangkan Vina memilih duduk di bangku kayu yang terletak di tengah cafe. Pegawai café yang sudah familiar dengan kami berdua tampak bingung, kenapa kami tidak duduk satu meja. Mungkin mereka berfikir kalau kita sedang musuhan, padahal….
          Ah, itu dia! Cowok itu datang menepati janjinya!
      Aku pura-pura asyik bermain ponsel, sesekali menyeruput ice chocolate mint, memandangi jalanan dari balik jendela. Namun aku tetap berusaha fokus pada Vina yang sedang mengobrol dengan seseorang bernama Dion, cowok yang dia kenal di pertemanan online!
Akhirnya!
         Sekitar 30 menit berlalu, dan aku melihat Dion beranjak dari kursi berjalan keluar café. Setelah Dion benar-benar pergi, Vina langsung menuju mejaku.
          “Gimanaaaaa????”
          “Menurut kamu gimana Sella?”
          Cute sih Dion… sesuai deh sama foto yang kamu tunjukin itu.”
          “Iya sih… Kami juga ngobrol lumayan seru. Tapi…”
          “Tapi…”
          “Arya gimana?”
          “Arya siapa?”
          “Temen kita…”
          “Hah? Arya teman sekelas kita itu?”
     “Kemarin dia bilang, Vina kalau kamu butuh teman ke toko buku, aku siap menemani.”
          “Arya naksir kamu?”
          Pipi Vina bersemu.
          “Ya ampun! Katanya ga mau punya pacar satu sekolah, ini malah satu kelas…”
          “Ih, apaan sih…”
          “Cieeee…. Dion apa Arya nih?”
          Wajah Vina merah padam, dan aku semakin semangat menggoda sahabatku itu. ***


Kamis, 05 April 2018

Ice Cream Di Musim Penghujan - #AStoryAbout




ICE CREAM DI MUSIM PENGHUJAN


“Suka ice cream ya?”
Aku menatap sekilas pada cowok yang baru saja duduk disampingku.
          “Kamu sering datang ke taman ini kan?”
        “Apa ada masalah?” aku mulai sedikit kesal dengan cowok berbaju kuning ini. Dengan enaknya dia menganggu kegiatan favoritku, melewatkan sore bersama choco fruit!
          “Tidak, ini tempat umum. Siapa saja boleh datang ke sini.”
          “Nah, itu tahu.”
          “Suka ice cream yang rasa apa?”
          Sumpah, aku mulai terganggu dengan cowok kepo yang entah siapa.
          “Pertanyaannya tidak harus dijawab kan?”
          Ah, kenapa novelnya tidak terbawa!
Aku mengacak-acak tas.
Ya ampun, kenapa aku bisa ceroboh tidak memasukkan novel ke dalam tas sih? Aku kan bisa terlihat sibuk dengan membaca novel, sehingga tidak perlu berbicara dengan cowok ini.
“Kamu mau satu cup ice cream choco fruit lagi?”
“Tidak, terimakasih.”
Busyet! Cowok ini ga ngerti juga kalau aku terganggu! Padahal aku sudah terlihat sangat sibuk dengan memainkan ponselku.
“Anggap saja bonus, karena kamu adalah pelanggan setia ice cream kami.”
Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponsel menuju cowok yang sedang tersenyum kepadaku itu.
“Maksudnya?”
“Ice cream Warna-Warni adalah usaha yang kami bangun bersama.”
“Kami?”
“Ya. Aku dan sepupu-sepupuku.” Cowok itu menunjuk seorang laki-laki, dan dua orang perempuan yang sedang melayani pembeli.
“Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya.”
“Aku duduk di depan, di balik kemudi.”
“Oh…”
“Sebentar ya…”
Cowok itu berlalu. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke bangku taman sambil membawa satu cup ice cream.
“Ini untuk kamu. Choco fruit.”
“Eh, ini beneran?”
“Iya!”
“Kalau kamu tahu rasa ice cream kesukaanku, kenapa tadi bertanya?”
Cowok itu tersenyum.
“Kok senyum?”
Bye!”
“Eh… terimakasih ya!”
Cowok itu melambaikan tangannya, dan berlalu.
*
    Taman tampak sepi, saat aku melangkah menuju bangku tempat aku biasa menghabiskan sore. Hanya tampak beberapa orang yang tetap berolahraga, atau sekedar jalan-jalan santai di tengah gerimis. Di bawah payung, mataku terus tertuju di jalan ujung taman. Kemana mobil VW Combi berwarna merah itu? Sudah satu bulan berlalu, aku tidak menemukannya. Apa karena Kobi Januar sedang berada di Jakarta? Mungkin!
Ya! Kalau saja aku tahu kalau cowok yang memberikan satu cup ice cream choco fruit itu seorang “bintang”, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk lebih lama mengobrol dengannya sore itu. Aku melihat dia di televisi! Ya, aku melihat cowok yang ternyata bernama Kobi, terpilih menjadi salah satu finalis ajang pencarian bakat bernyanyi. Aku tidak menyangka, cowok berbaju kuning itu punya suara indah. Ah, semoga aku bisa bertemu lagi dengan Kobi bersama choco fruitnya saat musim penghujan berlalu. Di taman ini. ***



         
         

Sabtu, 24 Maret 2018

Hari Sabtu

Hey, Mom, how are u in heaven? I miss you so much! :) 
Merasakan rindu terhadap seseorang memang rasa yang tidak bisa dihindari ya... Well, lagi kangen sama Ibuku tercinta... i miss my Ibu so much... meskipun raga sudah terpisahkan, namun Ibu selalu ada di dalam hati, till the end of time :) kadang suka kepo ya, kalau orang yang sudah meninggal itu kehidupan di sana seperti apa ya? :) 
Menjalani hidup tanpa Ibu memang tidak mudah, namun semua memang harus dijalani kan ya? *musti ditanyain lagih* ;)
Kalau tiba-tiba denger lagu Koes Plus atau Didi Kempot ya langsung ingget Ibu deh :) ah, ndak lagi ngapa-ngapain juga selalu inggat Ibu ;) hehe...
Baiklah... pengen nulis panjang lebar tapi malah lowbatt inihhh :O ya sudah, semoga hari ini menggembirakan... 
Happy Saturday! 

Senin, 12 Februari 2018

Rizky Febian & Aisyah Aziz - Indah Pada Waktunya (Official Music Video)





Lagu indah ini jadi menginspirasi bahwa.... Iya, percaya saja semua akan indah pada waktunya :)

Apapun, termasuk jodoh di dalamnya, kapan datangnya Yang Maha Kuasa, Allah Ta'ala yang mengaturnya...

Udah ngebet banget sama seseorang, sampai pol mentok, kalau ndak jodoh ya ndak dikasih jalan sama Gusti Allah :) i so believe about that...

Kalau saat ini masih belum ketemu sama jodohnya, ya tetaplah berusaha, berdoa, dan yakin suatu saat nanti akan datang saat bahagia itu... *kaya ngomong sama kaca nih :p

Happy Monday!

Bismillah...


Senin, 22 Januari 2018

Cemburu - #AStoryAbout



CEMBURU

“Oh, my, God! Jadi cewek itu yang lagi di-pedekate-in Galih? Ih, engga mungkin banget deh! Ga mungkin Galih suka sama cewek itu!” begitu kami tiba di food court dan duduk di salah satu meja, bukannya langsung memesan makanan, Ivon malah ngomel-ngomel.
          “Ga mungkin gimana?”
          “Helooo Lidia!!! Cewek itu kan ga tinggi, pakai kacamata, rambutnya ikal…”
“Maksudnya, kenapa cewek itu tidak seperti kamu?”
“Galih bilang, dia tuh ga suka sama cewek yang pakai kacamata, kesannya serius banget. Ih, beneran deh, tuh cewek bukan tipe Galih banget!”
“Mungkin tipe cewek Galih sudah berubah Ivon…”
          “Tapi bukan sama cewek itu juga kan?”
          “Ya kenapa sih? Cemburu ya?”   
          “Amit-amit cemburu! Aku sama Galih sudah putus setahun yang lalu. Kami putus baik-baik! Hari gini masih cemburu sama Galih, big no no deh!” aku cekikikan melihat Ivon yang emosi.
          “Terus gimana? Mau nyusulin Galih lagi ke toko buku?”
          “Ngapain! Kurang kerjaan amat!”
          “Beneran ga mau turun ke lantai 2? Tadi kan Galih baru saja masuk saat kita keluar, menurut perkiraanku Galih masih ada disana sama… hmmmm… siapa nama cewek itu?”
          “Tauk!”
          “Lha, bukannya kata kamu Galih sering mention cewek itu di twitter.”
          “Vera whoeverlah!”
          “Cieeee yang namanya hampir samaan, ada unsur V-V nya gituuuu…” aku semakin semangat menggoda Ivon yang wajahnya semakin cemberut.
          “Idih!”
          “Sudah putus kok masih kepo aja sih.”
          “Siapa yang kepo! Pas scroll TL tuh ada Galih yang lagi mention-mentionan sama si Vera-Vera itu!”
          “Masa?”
          “Kamu itu sahabatku bukan sih Lidia?”
          “Musti ditanyakan lagi? Kita kan sudah sohiban 5 tahun, sejak kamu pindah ke sebelah rumah.”
          “Jadi, bisa tidak ngedukung aku?”
          “Ngedukung kamu balikan sama Galih?”
          “Ya ampun, siapa juga yang mau balikan sama Galih? Ogah banget!”
          “Kok masih cemburu aja lihat Galih jalan sama cewek lain? Masih ngarep bakal balikan kan?”
          “Lidia! Kalau kamu masih seperti ini, aku pulang!”
          “Yah, ngambek…”
          “Mereka itu udah jadian belum sih?”
          “Ampun!!! Katanya ga mau ngebahas Galih, eh masih dibahas aja. Aku pulang nih.”
          “Iya, iya! No more Galih in my life!”
          Tawaku pecah melihat Ivon yang semakin bete.
*
          Ivon masih melambaikan tangan dari balik kaca, saat mobil Robert perlahan berlalu keluar komplek. Sore ini, Ivon akan datang ke acara ulangtahun Galih di sebuah restaurant ternama yang terkenal dengan konsep ‘Garden Party’nya. Karena tidak mendapatkan undangan, aku tidak datang ke pesta ulangtahun Galih, meskipun Ivon tetap ngotot memaksaku untuk datang.  
Aku masih tidak habis fikir, kenapa Ivon akhirnya mau menerima tawaran Robert untuk menemaninya datang ke acara ulangtahun Galih. Bukankah Ivon tidak suka Robert yang setengah mati mengejarnya? Ah, iya, aku lupa, orang kan bisa berubah. Kalau Galih bisa suka dengan cewek yang bukan tipenya, begitu kata Ivon, mungkin saja Ivon juga sudah berubah untuk bisa menerima perhatian Robert. Atau, jangan-jangan Ivon hanya ingin membuat Galih cemburu? Karena menurutku, Ivon itu masih ingin kembali pada Galih. Ah, entahlah! Urusan asmara memang rumit! Ya sudah, nikmati saja masa jomblomu Lidia. ***



Note : Cerita ini pernah dikirimkan untuk “Percikan” Majalah Gadis        

Melewati Waktu

Akhir-akhir ini sering naik bus dalam melakukan sebuah perjalanan. Senang rasanya jika sudah mengincar suatu tempat untuk dikunjungi, eh ada...